Bulletin IHQN Juli 2011
Telah terbit, bulletin IHQN untuk bulan Juli 2011, silahkan klik link berikut
Bulletin IHQN Juli 2011 (374.0 KiB, 673 hits)
Telah terbit, bulletin IHQN untuk bulan Juli 2011, silahkan klik link berikut
Bulletin IHQN Juli 2011 (374.0 KiB, 673 hits)
Beberapa waktu lalu PMPK FK-UGM bekerjasa dengan MMR-UGM dan Australian National University mengadakan seminar dan workshop mengenai pengembangan sistem regulasi pelayanan kesehatan. Prof Judith Healy dari ANU menyatakan bahwa meski Australia dan Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda namun masalah yang dihadapi relatif sama: regulasi yang tidak efektif berjalan, kesulitan mewujudkan lembaga regulator yang independen, sulitnya melibatkan sektor swasta, dan sebagainya.
Lebih lanjut Prof Judit mengusulkan lima prinsip regulasi pelayanan kesehatan yang responsif sebagai berikut:
1. Aksi regulasi berupa model piramida – mulai dari yang bawah (pendekatan dari lunak ke tegas)
2. Terdapat kapasitas untuk meningkatkan regulasi ke arah yang lebih tegas (lebih tinggi di piramidanya)
3 Menggunakan banyak aktor regulasi (satu seringkali tidak cukup)
4. Menggunakan banyak mekanisme regulasi (satu seringkali tidak cukup)
5. Membangun kekuatan– menggunakan dukungan/reward serta sangsi
Lebih lanjut dapat dipelajari pada slide presentasi Prof. Judith
Judith_Healy-Indonesia.pdf (371.6 KiB, 293 hits)
Dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah menetapkan lima strategi operasional yaitu: Penguatan Puskesmas dan jaringannya; Penguatan manajemen program dan sistem rujukannya; Meningkatkan peran serta masyarakat; Kerjasama dan kemitraan; Kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011; dan Kegiatan Penelitian dan pengembangan inovasi yang terkoordinir (Kemenkes, 2011).
Terkait dengan strategi “inovasi” maka Kemenkes juga telah menetapkan berbagai upaya seperti penempatan tenaga strategis (dokter dan bidan) termasuk dokter plus (atau disebut juga sebagai “dokter umum dengan kompetensi tambahan”), serta “mobile team” dan penyediaan fasilitas kesehatan di Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK), namun demikian data juga memperlihatkan adanya permasalahan mutu pelayanan KIA didaerah urban dimana telah terdapat kompetisi tinggi dalam pelayanan KIA.
Artikel ini akan membahas permasalahan di Provinsi NTT mewakili daerah terpencil dan di Provinsi Jawa Tengah mewakili daerah dengan kompetisi tinggi dan solusi masalahnya melalui pengembangan sistem regulasi pelayanan kesehatan dengan pendekatan public private partnership.
Baca selengkapnya:
Pengembangan Regulasi Mutu Pelayanan KIA di RS (312.4 KiB, 1,804 hits)
Menurut web-site Joint Commission International (JCI) http://www.jointcommissioninternational.org/JCI-Accredited-Organizations/#Indonesia di Indonesia telah terdapat 4 RS yang memperoleh sertifikat akreditasi internasional dari JCI. Fakta ini tentu menggembirakan bagi masyarakat pe-rumah-sakit-an di Indonesia karena menunjukkan bahwa RS Indonesia juga mampu memenuhi standar akreditasi internasional. Namun demikian disamping dampak akreditasi yang terkait dengan citra RS (ke-4 RS tersebut adalah RS swasta) tentu juga menjadi pertanyaan adalah mengenai dampak yang didapat dari akreditasi internasional ini, apakah meningkatkan mutu pelayanan masin-masing RS? apakah dampaknya lebih besar dibandingkan program akreditasi nasional (KARS)
Fakta lain: ternyata ke-4 RS tersebut bukan berasal dari Jakarta Read more…
Oleh: Hanevi Djasri dan Bob Errisa
(Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM)
Kematian adalah
sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh manusia, namun demikian kematian juga merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan yang penting. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa dari tahun 2005-2010 diperkirakan terdapat 850 kematian per 100.000 penduduk yang terjadi setiap tahunnya. (WHO, 2010). Di Inggris dan Wales pada tahun 2005 lebih kurang 73% dari total kematian terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan rumah sakit (RS). Tingginya angka kematian di RS merupakan pertanda akan kemungkinan adanya masalah mutu pelayanan yang memerlukan tindakan perbaikan, Read more…
Tahun 2010 akan segera berlalu, IHQN menggunakan kesempatan ini untuk melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan dalam membangun jejaring kerjasama peningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Memang tidak terlalu banyak yang telah dilakukan, diantaranya: Penyelenggaraan Forum Mutu yang tahun ini telah mencapai tahun ke 6; Kegiatan Breaktrough yang baru tahun ini dimulai; Keikutsertaan dalam Konfrensi Internasional ISQua yang pada tahun ini telah berhasil membawa RS Indonesia untuk menyajikan hasil inovasinya dalam upaya peningkatan mutu. Diharapkan kegiatan-kegiatan tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan dampak yang positif.
Tahun depan, IHQN akan berusaha untuk menjadi jejaring yang lebih baik lagi, antara lain dengan memperbaiki sistem pengelolaan IHQN, membangun kerjasama dengan Kemenkes, PERSI, Adinkes dan lembaga-lembaga lain antara lain dalam kegiatan: International Accreditation Program (ISQua), Evaluasi Mutu RS (PERSI), Membangun Sistem Evaluasi dan Monitoring SPM-RS (Adinkes). Serta menyelaraskan program dan kegiatan dengan agenda Nasional dan Internasional. Untuk itu pada post ini kami sertakan pula bulletin akhir tahun dari ISQua.isqua-bulletin-december-2010
Selamat Menyambut Tahun Baru, 2011
Pada bulan Oktober 2010, dr. Tjahjono Kuntjoro (PMPK FK-UGM), dr. Lia Partakusuma (RS Fatmawati) dan dr. Hanevi Djasri (PMPK) mewakili Indonesia sebagai pembicara dalam konfrensi internasional yang diselenggarakan oleh International Society for Quality in Healthcare (ISQua) di Paris, Perancis. Copy dari buku kumpulan abstrak dan berbagai poster tentang perkembangan mutu dan keselamatan pasien yang dibahas dalam konfrensi tersebut dapat diperoleh dengan menghubungi seketariat IHQN.
Pada tanggal 18-21 Agustus lalu, IHQN mewakili Prof. Laksono Trisnantoro mengikuti kegiatan temu pakar membahas mengenai persiapan Riset Fasilitas: Rumah Sakit, Puskesmas dan Laboratorium yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Riset Fasilitas merupakan salah satu survey berkala yang diselenggarakan oleh Balitbangkes yang memang salah satu ruang lingkup kegiatannya adalah melakukan survey berkala untuk memantau indikator derajat kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan disamping melakukan Riset pengembangan/terapan (seperti pengembangan produk terobosan: diagnostik, vaksin, obat, formula makanan, prototipe teknologi kesehatan, model intervensi dan public health law serta studi kohort khususnya untuk penyakit tidak menular yang kronis). Read more…

Indonesian Healthcare Quality Network (IHQN) kembali dengan sukses menyelenggarakan Forum Mutu Pelayanan Kesehatan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta 23-24 Juni 2010. Bekerjasama dengan PMPK FK-UGM dan RSUP Persahabatan.
Forum Mutu ke-6 ini cukup berbeda dengan Forum Mutu sebelumnya, pada Forum Mutu ini telah dibahas mengenai konsekuensi dari telah diterbitkannya “Road Map” Reformasi Kesehatan Masyarakat Indonesia oleh Kementerian Kesehatan RI terhadap upaya peningkatan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan, “Road Map” ini kemudian “disandingkan” dengan “Road Map” dari PT. Garuda Indonesia sebagai bahan bagi para peserta untuk membandingkan kedua hal tersebut meski memang memiliki level yang berbeda, namun demikian sebuah “roadmap” tetaplah sebuah perencanaan yang harus secara spesifik menjelaskan apa yang akan dicapai, bagaimana cara mencapainya dan apa saja yang harus disiapkan.
Forum Mutu 2010 juga telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pembahasan pada Outcome Pasien (Clinical Outcome, Quality Outcome maupun Quality of Life), para peserta telah terpapar akan pentingnya mengelola clinical outcome (salah satunya dengan adanya Outcome Manajer) baik dari sudut pandang keilmuan dan juga pengalaman para praktisi dilapangan. Berbagai saran untuk menindaklanjuti sesi ini telah diajukan, antaralain dengan menggagas program “The National Clinical Quality Database and the National Indicator Project” Read more…

Institute for Healthcare Improvement (www.ihi.org) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan alat bantu peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara on-line yang disebut sebagai “The IHI Improvement Map”. Tools ini menyediakan pedoman yang jelas untuk para pengelola sarana pelayanan kesehatan terutama manajer rumah-sakit untuk menetapkan agenda, memilih prioritas, mengorganisasi kegiatan dan mengelola sumber daya secara efisien dalam upaya peningkatan mutu. Read more…